Web ini merupakan Media online Mapel Ekonomi SMAN 4 Cilegon - Selamat Datang di Tahun Pelajaran 2025/2026 - ©2025

↑↓ Daftar Bacaan

Minggu, 21 Desember 2025

Gig Economy di Tengah Gelombang Teknologi: Peluang atau Tantangan bagi Generasi Muda?

Standard

Bayangkan dunia kerja tanpa kantor tetap, tanpa jam kerja yang pasti, dan tanpa kontrak jangka panjang. Dunia itu bukan masa depan, hal itu sedang terjadi sekarang.

Sebelum membaca tulisan ini, silakan tonton video di bawah untuk memahami bagaimana dunia kerja diprediksi berubah di masa depan menuju model gig economy.


Teknologi Mengubah Cara Kita Bekerja

Laporan World Bank tahun 2025 berjudul Pekerjaan di Masa Depan: Robot, Kecerdasan Buatan, dan Platform Digital di Asia Timur dan Pasifik menunjukkan bahwa dunia kerja sedang berada pada titik perubahan besar. Robot dan kecerdasan buatan (AI) mulai menggantikan pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang, terutama di sektor manufaktur dan jasa tertentu.

Namun, laporan ini juga menegaskan satu hal penting:
teknologi tidak hanya menghilangkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan bentuk pekerjaan baru.

Salah satu bentuk pekerjaan baru yang berkembang pesat adalah gig economy.

Memahami Gig Economy dengan Cara Sederhana

Gig economy adalah sistem kerja di mana seseorang tidak terikat pada satu perusahaan secara permanen, melainkan bekerja berdasarkan tugas, proyek, atau pesanan tertentu. Pendapatan diperoleh dari setiap “gig” yang diselesaikan.

Contohnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:

  • Pengemudi ojek online
  • Kurir layanan pesan antar
  • Freelancer desain grafis
  • Penulis konten lepas
  • Tutor daring
  • Content creator

Pekerjaan ini umumnya difasilitasi oleh platform digital, yang mempertemukan penyedia jasa dan pengguna jasa secara langsung.

Mengapa Gig Economy Tumbuh Pesat?

Menurut World Bank, ada tiga kekuatan utama yang mendorong tumbuhnya gig economy:

  1. Otomatisasi pekerjaan rutin, Banyak pekerjaan lama digantikan mesin, sehingga tenaga kerja harus beradaptasi.
  2. Digitalisasi ekonomi, Internet dan aplikasi memungkinkan pekerjaan dilakukan dari mana saja.
  3. Kebutuhan fleksibilitas tenaga kerja, Perusahaan dan individu sama-sama mencari cara kerja yang lebih luwes dan efisien.

Di negara berkembang seperti Indonesia, gig economy juga menjadi solusi di tengah:

  • Tingginya pekerjaan informal
  • Terbatasnya lapangan kerja formal
  • Besarnya jumlah penduduk usia muda

Gig economy membuka pintu masuk ke dunia kerja tanpa syarat pengalaman panjang atau ijazah tertentu.

Gig Economy dan Generasi SMA: Apa Kaitannya?

Bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), gig economy sering kali dipandang sebagai fenomena dunia kerja orang dewasa. Padahal, jika dicermati lebih dalam, gig economy justru merupakan gambaran nyata dunia kerja yang kemungkinan besar akan dihadapi generasi muda di masa depan.

Perubahan teknologi telah menggeser cara perusahaan menilai tenaga kerja. Dunia kerja tidak lagi sepenuhnya berfokus pada ijazah, usia, atau masa kerja, melainkan pada keterampilan nyata yang dapat langsung digunakan. Inilah sebabnya gig economy menjadi relevan bagi siswa SMA sejak dini.

1. Dunia Kerja yang Menghargai Keterampilan, Bukan Sekadar Ijazah

Dalam gig economy, seseorang dinilai dari apa yang bisa ia kerjakan, bukan semata-mata dari latar belakang pendidikan formalnya. Platform digital memungkinkan siapa pun menawarkan jasa, selama memiliki keterampilan yang dibutuhkan.

Bagi siswa SMA, hal ini menunjukkan bahwa:

  • Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas
  • Keterampilan praktis memiliki nilai ekonomi
  • Proses mengasah kemampuan sejak dini sangat penting

Kemampuan seperti menulis, desain grafis, editing video, pengelolaan media sosial, hingga pemrograman dasar dapat menjadi modal awal untuk memasuki dunia kerja berbasis gig economy.

2. Menumbuhkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Pribadi

Gig economy menuntut individu untuk mengelola dirinya sendiri. Tidak ada atasan yang terus-menerus mengawasi, dan tidak ada jam kerja yang tetap. Keberhasilan sangat ditentukan oleh kedisiplinan dan tanggung jawab pribadi.

Bagi siswa SMA, pengalaman mengenal konsep gig economy dapat:

  • Melatih manajemen waktu antara belajar dan aktivitas lain
  • Menumbuhkan sikap disiplin dan komitmen
  • Mengajarkan pentingnya reputasi dan kepercayaan

Dalam gig economy, kualitas kerja dan sikap profesional akan menentukan apakah seseorang akan terus mendapatkan peluang kerja atau tidak.

3. Pentingnya Literasi Digital di Era Platform

Hampir seluruh aktivitas gig economy berlangsung melalui platform digital. Oleh karena itu, literasi digital menjadi keterampilan dasar yang tidak bisa diabaikan.

Literasi digital bagi siswa SMA mencakup:

  • Kemampuan menggunakan teknologi secara produktif
  • Pemahaman etika berkomunikasi di ruang digital
  • Kesadaran terhadap keamanan data dan jejak digital

Siswa yang terbiasa menggunakan teknologi secara positif akan lebih siap menghadapi dunia kerja digital dibandingkan mereka yang hanya menjadi konsumen teknologi.

4. Kreativitas sebagai Nilai Tambah Utama

Salah satu ciri pekerjaan dalam gig economy adalah tingginya kebutuhan akan kreativitas. Pekerjaan yang sulit digantikan oleh robot dan AI umumnya adalah pekerjaan yang melibatkan ide, imajinasi, dan interaksi manusia.

Bagi generasi SMA, kreativitas dapat dikembangkan melalui:

  • Pembuatan konten digital
  • Proyek kewirausahaan sederhana
  • Kegiatan ekstrakurikuler berbasis minat dan bakat

Gig economy membuka ruang bagi siswa untuk menyalurkan kreativitas mereka sekaligus memahami nilai ekonomi dari karya yang dihasilkan.

5. Gig Economy sebagai Jembatan Menuju Dunia Kerja

Gig economy juga dapat dipahami sebagai jembatan transisi antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Melalui pekerjaan berbasis proyek, generasi muda dapat:

  • Mengenal dinamika dunia kerja lebih awal
  • Mengembangkan portofolio keterampilan
  • Memahami tanggung jawab profesional secara bertahap

Dengan demikian, ketika lulus dari pendidikan formal, siswa tidak lagi sepenuhnya asing dengan dunia kerja yang sesungguhnya.

Sisi Lain Gig Economy: Fleksibel tapi Rentan

Meski menawarkan peluang, World Bank juga mengingatkan bahwa gig economy memiliki risiko:

  • Pendapatan tidak selalu stabil
  • Minim perlindungan sosial
  • Ketidakpastian jangka panjang
Inilah sebabnya pendidikan memiliki peran strategis dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Sekolah tidak cukup hanya menyiapkan siswa untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk mengelola risiko kerja di era digital, seperti ketidakpastian pendapatan, persaingan keterampilan, dan perubahan jenis pekerjaan yang cepat. Melalui pembelajaran yang menekankan keterampilan digital, literasi keuangan, serta sikap adaptif dan bertanggung jawab, siswa diharapkan mampu memahami bahwa keberhasilan di dunia kerja masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memperoleh pekerjaan, tetapi juga oleh kesiapan menghadapi dinamika dan tantangan yang menyertainya.

Penutup: Dunia Kerja Sedang Berubah, Kita Harus Siap

Gig economy adalah salah satu wajah baru dunia kerja di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Ia membawa peluang besar, tetapi juga tantangan nyata. Generasi muda, termasuk siswa SMA, perlu memahami perubahan ini sejak dini agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku yang siap dan berdaya saing.

Karena di era robot dan AI, yang paling berharga bukan sekadar pekerjaan tetap, melainkan kemampuan untuk terus beradaptasi.

Sabtu, 01 November 2025

Apa itu Rupiah Digital?

Standard

Bank Indonesia (BI) berencana mengembangkan Rupiah Digital, mata uang digital resmi berbasis Central Bank Digital Currency (CBDC) dengan nilai stabil layaknya stablecoin, sebagai langkah memperkuat ekosistem keuangan digital dan memperluas inklusi keuangan di Tanah Air. - (bloombergtechnoz


Rupiah Digital yang dimaksud adalah uang resmi dalam format digital yang menjadi bagian dari Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 (BSPI) yang digulirkan pada tahun 2019 yang lalu.

Lantas, seperti apa format dari Uang/Rupiah Digital tersebut, mari kita telaah lebih dalam pertanyaan-pertanyaan yang mungkin hadir dari benak kita.

Q: Apa beda Uang Digital dengan Uang Elektronik yang sudah berlaku saat ini?

A: Uang Elektronik: berbentuk saldo yang disimpan di server atau kartu chip milik penerbit, uang elektronik sifatnya akan memotong saldo yang kita miliki dalam rekening atau dompet digital. Uang Digital: berbentuk token atau akun digital dalam sistem resmi bank sentral, bisa menggunakan Distributed Ledger Technology (DLT). 

Atau dalam pengertian yang lebih sederhana, uang elektronik adalah metode pembayaran (bisa berwujud kartu debet, dompet digital, QRIS), sedangkan uang digital adalah uang jenis baru sebagai alat pembayaran yang sah. Jadi, setelah terwujudnya uang digital, ketika Anda ditanya tentang jenis-jenis uang, jawabannya tentu saja: uang kertas, uang logam, dan uang digital.

Q: Apakah Rupiah Digital menggunakan teknologi Blockchain, dan bagaimana posisinya dalam komunitas Cryptocurrency?

A: Bank Indonesia dalam White Paper Proyek Garuda menjelaskan bahwa Digital Rupiah dapat menggunakan Distributed Ledger Technology (DLT) yang merupakan teknologi dasar dari blockchain namun dalam bentuk yang berbeda dari blockchain publik seperti Bitcoin atau Ethereum.

Perbedaannya:


Digital Rupiah akan menggunakan permissioned DLT (jaringan tertutup dan diawasi).


Hanya pihak yang ditunjuk Bank Indonesia (misalnya bank, wholesaler, atau penyedia jasa pembayaran).


Tujuannya bukan desentralisasi penuh, tetapi efisiensi, keamanan, dan keandalan dalam sistem pembayaran nasional.


Jadi, Digital Rupiah bukan “coin di blockchain publik”, melainkan “Rupiah digital dalam sistem DLT tertutup milik Bank Indonesia.”


Sederhananya, cryptocurrency bersifat decentralized (Tidak ada otoritas pusat; seluruh peserta jaringan ikut mengelola dan memverifikasi), sedangkan Rupiah Digital bersifat centralized dalam bingkai CBDC (Central Bank Digital Currency).


Q: Bagaimana posisi Rupiah Digital dalam konteks Stablecoin seperti Tether (USDT)?


A: Uang/Rupiah Digital adalah jawaban negara terhadap fenomena stablecoin pada crypto. Uang Digital (CBDC) menawarkan stabilitas nilai, legalitas, dan keamanan. Rupiah Digital nantinya menggunakan underlying Surat Berharga Negara (SBN) yang akan memastikan setiap unit Digital Rupiah mewakili cadangan nyata dalam neraca Bank Indonesia (BI).


Prinsipnya Rupiah Digital bertujuan menjaga kedaulatan Rupiah dan integrasi sistem keuangan digital yang implementasinya berlaku sah dan wajib diterima di seluruh NKRI, sedangkan stablecoin pada crypto hanya memfasilitasi transaksi aset kripto dalam wadah DeFi (decentralized finance) dan sementara hanya berlaku digunakan pada komunitas crypto.


Demikaian QnA seputar Uang/Rupiah Digital. untuk mempelajari lebih dalam bisa dibuka pada tautan berikut White Paper CBDC


Referensi: bloombergtechnozbi.go.id


 


 

Selasa, 07 Oktober 2025

Indonesia vs Singapura & Vietnam

Standard

Mengenal Singapura


Vietnam yang Seperti Roket


“Nah, dua video di atas menggambarkan bagaimana aktivitas ekonomi di Singapura dan Vietnam. Singapura terlihat modern, maju dengan infrastruktur serba canggih, sedangkan Vietnam memperlihatkan aktivitas ekonomi yang terus berkembang pesat.

Bagaimana dengan Indonesia? Kalau kita bandingkan, PDB Indonesia memang jauh lebih besar, tapi jumlah penduduk kita juga jauh lebih banyak. Nah, inilah kenapa rata-rata pendapatan per kapita Indonesia masih lebih rendah dibanding Singapura, bahkan bisa mirip dengan Vietnam.”


Setelah menonton video, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:


  1. Negara mana yang paling sejahtera?
  2. Apakah PDB besar selalu berarti rakyat lebih makmur?
  3. Bagaimana posisi Indonesia jika dibandingkan dengan kedua negara itu?
  4. Menurutmu, apa langkah yang perlu dilakukan Indonesia agar pendapatan per kapitanya bisa meningkat? 

Selasa, 05 Agustus 2025

Teori Perdagangan Internasional

Standard

1. Keunggulan (Absolute) Absolut

Merujuk pada kemampuan suatu entitas (negara, perusahaan) memproduksi barang/jasa lebih efisien — lebih cepat, lebih murah, atau kualitas lebih tinggi dibanding pesaing.

Contoh historis: Adam Smith menyatakan bahwa jika suatu negara menggunakan lebih sedikit tenaga kerja untuk memproduksi barang, maka negara tersebut memiliki keunggulan absolut.

2. Keunggulan Komparatif

Diajukan oleh David Ricardo (1817), yaitu kemampuan memproduksi suatu barang dengan biaya oportunitas lebih rendah dibanding alternatif produksi barang lain.

Bahkan jika satu pihak lebih efisien dalam semua produksi, saling menguntungkan tetap terjadi ketika masing-masing fokus pada hal yang paling efisien secara relatif.

Mengaitkan Video dengan Teori

a. Penyajian dalam Video

Video menunjukkan:

Mengapa negara melakukan perdagangan internasional: karena adanya perbedaan efisiensi dan spesialisasi produksi.

Konsep keunggulan absolut & komparatif dijelaskan secara dasar sebagai alasan ekonomi di balik perdagangan antarnegara.

b. Contoh Visualisasi

Bayangkan dua negara:

Negara A menghasilkan tekstil dalam 100 jam dan elektronik dalam 120 jam.

Negara B membutuhkan 90 jam untuk tekstil dan 80 jam untuk elektronik; B unggul secara absolut untuk kedua produk.

Meskipun demikian, masing-masing negara akan mengalami manfaat dengan spesialisasi komparatif jika biaya oportunitas relatifnya berbeda.

Mengenal Badan Usaha dan Peran Nyatanya: Studi Kasus BRI sebagai BUMN

Standard

Tonton video di atas!
Video ini menunjukkan bagaimana Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menjalankan aktivitasnya dan memberi dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian.

 

Jumat, 04 Juli 2025

Apa Pentingnya Belajar Ekonomi?

Standard
Ilmu Ekonomi: Bukan Sekadar Uang dan Grafik! Ngomongin Ekonomi Itu Ngomongin Hidup. Ekonomi itu Ilmu yang Sering Kita Jalani, Tapi Jarang Kita Sadar.

 

Pernah nggak sih kamu bingung kenapa harga cabai naik saat musim hujan? Atau kenapa barang diskon di akhir bulan justru bikin toko rame? Nah, tanpa kamu sadari, kamu sedang bersentuhan langsung dengan ilmu ekonomi!

Banyak orang pikir ekonomi itu rumit—penuh angka, grafik, dan istilah susah. Padahal, hakikat ilmu ekonomi itu sesederhana: bagaimana manusia memilih, karena sumber daya itu terbatas. 

Latar Belakang

Ilmu ekonomi muncul atas dasar kita sebagai manusia berupaya untuk memenuhi kebutuhannya. Nah, kebutuhan manusia itu sendiri berkembang dan berbeda-beda kondisinya sesuai dengan perubahan peradaban manusia. Dahulu kala, sebelum berkembangnya uang sebagai alat tukar, manusia memenuhi kebutuhannya melalui sistem barter dalam komunitas yang kecil. Seiring waktu, peradaban manusia itu sendiri yang membuat sebuah perubahan dan lambat laun menolak sistem barter. Bisa kamu bayangkan dong ya! Masa iya, seekor sapi yang kamu miliki hanya ditukar oleh sekarung beras oleh tetanggamu? 😀

Ilustrasi Zaman Barter - Foto di-generate AI

Karena itu, baru deh manusia memikirkan bagaimana caranya ada sebuah benda/komoditas yang dijadikan sebagai alat tukar. Inilah cikal bakal lahirnya uang. Pada zaman tersebut, manusia menciptakan sebuah komoditas untuk dijadikan semacam alat tukar sebelum peradaban menamakannya uang. Contoh alat tukarnya bisa 1 lembar kulit hewan, 1 kg rempah-rempah. Jadi gambarannya, barang yang diperjualbelikan telah dapat dinilai sebagai satuan nilai tukar, misal; 1 ekor kambing dihargai 5 kg rempah-rempah.

Ilustrasi Zaman Uang Komoditas - Foto di-generate AI

Ekonomi Itu Soal Pilihan

Inti dari ilmu ekonomi adalah bagaimana kita mengambil keputusan dalam kondisi sumber daya yang terbatas. Uang, waktu, tenaga—semuanya terbatas. Bagaimana orang tua kita bisa dapat beras di tengah suasana pertanian yang gagal panen, dan harga beras menjadi melonjak tinggi. Atau misalnya kalian harus memilih: jajan kopi atau nabung buat konser? Belajar malam ini atau scroll TikTok? Semua itu, secara nggak langsung, adalah proses ekonomi.

Masalah Pokok Ekonomi: Apa, Bagaimana, dan Untuk Siapa?

Kebutuhan manusia terus berkembang, peradabannya pun terus mengikuti untuk berkembang, sementara sumber daya yang tersedia terbatas. Nah, dalam hal memproduksi barang ada 3 pertanyaan penting yang muncul:

  • What, Apa yang diproduksi? (Contoh: menapa banyak orang jualan kopi kekinian?)
  • How, Bagaimana cara memproduksinya? (Manual vs mesin, lokal vs impor)
  • For Whom, Untuk siapa barang itu dibuat? (Segmen pasar: remaja, emak-emak, atau pekerja?)

Intinya: Ekonomi Ada di Sekitar Kita

Ya, Ekonomi ada di sekitar kita, mulai dari beli pulsa, ngatur uang saku, belanja bulanan, sampai mikirin harga BBM, semua itu bagian dari ilmu ekonomi. Bahkan strategi bisnis konten kreator di TikTok juga pakai prinsip ekonomi, lho!

Jadi, ekonomi bukan cuma soal uang dan kebijakan negara. Ekonomi itu ada di kehidupan kita sehari-hari, saat kita memilih, membandingkan, dan mempertimbangkan.

Dan akhirnya, hakikat ilmu ekonomi adalah membantu kita membuat pilihan terbaik di dunia yang penuh keterbatasan.


Kamis, 10 Oktober 2024

Pengembangan Karir Guru selain Mengajar di Sekolah (untuk Meningkatkan Pendapatan Aktif para Guru)

Standard
Pengembangan karir untuk guru selain mengajar di sekolah dapat berfokus pada berbagai aktivitas yang tidak hanya meningkatkan pendapatan aktif, tetapi juga memungkinkan guru untuk memperluas kompetensi dan jejaring profesional mereka. Berikut beberapa pilihan pengembangan karir yang relevan:



1. Tutor Pribadi atau Bimbingan Belajar (Online/Offline)

Guru dapat memanfaatkan keahlian mengajarnya dengan membuka jasa les privat atau bergabung dengan platform bimbingan belajar online. Ini memungkinkan fleksibilitas waktu serta kesempatan menjangkau siswa dari berbagai wilayah.

  • Pendapatan Aktif: Bayaran per sesi atau paket pembelajaran.
  • Platform yang relevan: Ruangguru, Zenius, dan lainnya.

2. Membuka Kelas atau Kursus Online

Guru dapat mengembangkan kursus online di bidang yang mereka kuasai, misalnya matematika, literasi keuangan, atau bidang-bidang spesifik lainnya.

  • Pendapatan Aktif: Kursus berbayar dengan model akses penuh atau berlangganan.
  • Platform yang relevan: Udemy, Coursera, Skillshare.

3. Penulis Buku atau Modul Pembelajaran

Guru dapat menulis buku, modul pembelajaran, atau e-book yang berfokus pada materi ajar di bidang mereka. Buku-buku ini bisa diterbitkan secara mandiri atau melalui penerbit.

  • Pendapatan Aktif: Royalti dari penjualan buku fisik atau e-book.
  • Platform: Gramedia, Google Play Books, Amazon Kindle.

4. Konten Kreator Edukasi di Media Sosial

Guru bisa menjadi konten kreator dengan fokus pada pendidikan, seperti membuat video pembelajaran di YouTube, TikTok, atau Instagram. Selain mengedukasi publik, mereka bisa menghasilkan pendapatan dari iklan atau sponsor.

  • Pendapatan Aktif: Iklan (monetisasi), sponsor, atau kolaborasi.
  • Platform: YouTube, TikTok, Instagram.

5. Konsultan Pendidikan

Dengan pengalaman mengajar, guru bisa menawarkan layanan konsultan untuk sekolah atau lembaga pendidikan. Ini bisa mencakup pengembangan kurikulum, strategi pengajaran, atau pelatihan guru.

  • Pendapatan Aktif: Konsultasi berbayar per proyek atau per jam.

6. Pelatih atau Pembicara di Workshop/Seminar

Guru dengan spesialisasi tertentu dapat menjadi pelatih atau pembicara di workshop, seminar, atau konferensi yang berkaitan dengan pendidikan, baik di tingkat lokal maupun nasional.

  • Pendapatan Aktif: Bayaran untuk setiap sesi pelatihan atau seminar.
  • Platform: Event profesional, webinar, konferensi pendidikan.

7. Menjual Materi Ajar Digital

Guru bisa membuat dan menjual materi ajar seperti presentasi, lembar kerja, atau tes interaktif secara digital kepada guru lain di platform tertentu.

  • Pendapatan Aktif: Penjualan materi per unduhan.
  • Platform: Teachers Pay Teachers, Canva, atau platform lokal.